Analisis Cuaca Ekstrem NTB Hujan Lebat di Lombok Timur (17 Januari 2017)

  • 19 Jan 2017
  • KADEK SETIYA WATI, S.Tr (PMG Pelaksana Lanjutan Sta. Met. Kelas II Bandara Internasional Lombok BMKG)

Berdasarkan analisis cuaca skala regional, SST di wilayah perairan Indonesia relatif cukup hangat termasuk di perairan sekitar Pulau Lombok. SST yang cukup hangat meningkatkan potensi terjadinya penguapan yang memasok uap air untuk terbentuknya awan-awan hujan. Berdasarkan pola angin terlihat daerah pertemuan angin di Perairan Utara NTB yang mengakibatkan massa udara dipaksa naik sehingga terjadi pembentukan awan-awan konvektif yang aktif sehinga dapat menyebabkan terjadinya hujan dengan intensitas lebat. Kondisi ini didukung pula dengan kelembaban relatif di Pulau Lombok pada lapisan 850 mb berkisar antara 80-90 % dan pada lapisan 700 mb ynag berkisar antara 80-100%. Citra satelit menunjukkan adanya liputan awan yang tebal di atas wilayah Pulau Lombok mulai pukul 11.00 WITA hingga 24.00 WITA . Citra radar cuaca menunjukkan terjadinya hujan dengan intensitas ringan hingga lebat yang terjadi dalam jangka waktu relatif lama di wilayah Suela, Lombok Timur.

Artikel Lainnya

Berdasarkan analisis cuaca skala regional, SST di wilayah perairan Indonesia relatif cukup hangat termasuk di perairan sekitar Pulau Lombok. SST yang cukup hangat meningkatkan potensi terjadinya penguapan yang memasok uap air untuk terbentuknya awan-awan hujan. Berdasarkan pola angin terlihat daerah pertemuan angin di Perairan Utara NTB yang mengakibatkan massa udara dipaksa naik sehingga terjadi pembentukan awan-awan konvektif yang aktif sehinga dapat menyebabkan terjadinya hujan dengan intensitas lebat. Kondisi ini didukung pula dengan kelembaban relatif di Pulau Lombok pada lapisan 850 mb berkisar antara 80-90 % dan pada lapisan 700 mb ynag berkisar antara 80-100%. Citra satelit menunjukkan adanya liputan awan yang tebal di atas wilayah Pulau Lombok mulai pukul 11.00 WITA hingga 24.00 WITA . Citra radar cuaca menunjukkan terjadinya hujan dengan intensitas ringan hingga lebat yang terjadi dalam jangka waktu relatif lama di wilayah Suela, Lombok Timur.

Letak wilayah Indonesia secara astronomis maupun geografis yang sangat mempengaruhi kondisi cuaca dan iklim. Sedangkan secara geografis, wilayah ini terletak di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik serta antara Benua Asia dan Benua Australia.

Fenomena hujan lebat bukan merupakan hal baru di wilayah Indonesia yang memiliki iklim tropis. Kondisi curah hujan dengan intensitas tinggi, durasi yang cukup lama serta pendistribusian hujan yang tidak merata dapat menyebabkan banjir dan longsor di suatu tempat. Berdasarkan informasi media online liputan6.com, banjir yang terjadi sejak Rabu dinihari pada tanggal 21 Desember 2016, menyebabkan ribuan rumah di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat terendam banjir bandang. Melihat dampak yang terjadi, maka perlu dilakukan kajian kondisi meteorologi dengan pendekatan dalam skala global, regional, dan lokal menggunakan data-data reanalisis seperti data suhu muka laut, data kelembapan udara, data pola pergerakan angin, dan data medan tekanan. Selain data diatas dilakukan pula analisis cuaca menggunakan citra inderaja seperti satelit cuaca serta memanfaatkan data model numerikal untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Berdasarkan hasil analisis dalam ketiga skala tersebut diperoleh hasil bahwa hujan lebat yang mengguyur wilayah Kota Bima merupakan akibat hangatnya suhu muka laut yang mendukung terjadinya penguapan sehingga uap air tersedia dalam jumlah cukup. Gangguan cuaca berupa siklon tropis "YVETTE" mengakibatkan terjadinya belokan dan perlambatan angin di atas wilayah Pulau Sumbawa bagian timur sehingga terjadi pertumbuhan aktif awanawan konvektif yang mengakibatkan hujan terus menerus.

Telah terjadi puting beliung di dusun kloangur, desa watudiran,Kec. Waigete pada pukul 00.12 WITA dini hari yang mana kejadian ini mengakibatkan kerusakan pada 8 rumah penduduk dan 1 SDK rusak berat.

Analisis beberapa paramater cuaca diatas menujukkan bahwa kondisi udara di wilayah Pangkalpinang sangat mendukung terjadinya awan konvektif (Cumulonimbus) yang dapat juga menyebabkan terjadinya angin kencang.

Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang tingkat kegempaannya tinggi. Generator penggerak gempabumi di wilayah NTT disebabkan oleh adanya tumbukan Lempeng Indo-Australia yang menunjam terhadap Lempeng Eurasia, hal ini menyebabkan terjadinya zona subduksi di sepanjang wilayah selatan NTT. Adapun akibat pergerakan lempeng tektonik menyebabkan terjadinya patahan naik busur belakang atau yang biasa disebut patahan naik (back arc thrust) dan beberapa patahan lokal di wilayah NTT. Berdasarkan kondisi tektonik, NTT merupakan wilayah yang sangat kompleks pola tektoniknya. Hasil monitoring gempabumi 4 tahun (2012-2015) di Regional Seismic Center (RSC) Kupang, telah tercatat 2636 kali kejadian gempabumi di wilayah NTT

Secara umum sumber gempa di daratan Sumatra dapat disebabkan oleh aktifitas sesar lokal maupun aktifitas sesar lokal maupun aktifitas zona subduksi. Perbedaan kedua sumber gempa tersebut dapat dilihat dari kedalamn sumber gempa. Gempa akibat aktifitas sesar lokal memiliki karakteristik kedalaman sumber gempa dangkal, sedangkan untuk sumber gempa akibat subduksi lempeng di Pulau Sumatra mempunyai kisaran kedalaman hingga ratusan kilometer. Gempabumi yang terjadi di barat daya Deliserdang Sumatra Utara pada hari Senin 16 Januari 2017, 19:42:12 WIB ini jika ditinjau dari kedalaman hiposenternya merupakan jenis gempabumi dangkal dan mempunyai mekanisme sesar mendatar. Hal ini berarti gempabumi ini terjadi akibat aktifitas sesar lokal. Dengan kedalaman yang dangkal ini, sangat wajar jika guncangan akibat gempa ini dirasakan tidak terlalu luas. Patut disyukuri bahwa kekuatan gempabumi ini tidak terlalu besar, sehingga diharapkan tidak sampai menimbulkan kerusakan berat.

Berdasarkan informasi dari media online (www.radarsorong.com) tertanggal senin, 09 Januari 2017, menyebutkan telah terjadi banjir di daerah Pasar Youtefa dan Perumahan Organda, Padang Bulan, Jayapura pada malam hari tanggal 07 Januari 2017 yang diakibatkan oleh adanya hujan lebat dengan durasi cukup lama.

Telah terjadi kejadian berupa hujan sedang & angin kencang dengan kecepatan angin maksimum mencapai 25 Knot (50 km/jam) yang berhembus dari arah selatan sekitar pukul 20.55 WIT.

Terjadi banjir hingga setinggi 1 meter yang menghanyutkan beberapa rumah beserta harta para warga. Banjir tersebut terjadi akibat meluapnya kali-kali kecil di kawasan atas Wolonmanget hingga akhirnya menerjang puluhan unit rumah di sisi timur ruas jalan trans utara Flores.

  • 18 Jan 2017, 17:51:39 WIB
  • 5.2 SR
  • 10 Km
  • 7.14 LS - 105.31 BT
  • 17 Jan 2017, 18:48:26 WIB
  • 5.6 SR
  • 10 Km
  • 6.09 LU 93.24 BT
  • Pusat gempa berada di laut 234 km BaratLaut Kota Sabang
  • Dirasakan: III Banda Aceh, I-II Pidie Jaya, I-II Lhokseumawe, II-III Meulaboh,

Siaran Pers & Info Aktual