Artikel yang Anda cari tidak diketemukan!

Kemungkin artikel ini tidak menggunakan 2 (dua) bahasa. Silahkan memilih langkah berikut

Gunakan Bahasa Indonesia Halaman Depan

Artikel Lainnya

Meskipun beberapa hari terakhir ini hujan masih setia mengguyur sebagian wilayah NTB seperti Kota Mataram, sebagian Lombok Barat dan Lombok Tengah, namun di daerah lainnya seperti di Bima, Kota Bima, Dompu, Sumbawa bagian timur, dan sebagian Lombok Timur curah hujan terpantau sudah mulai berkurang. Apakah hal ini mengindikasikan musim kemarau mulai memasuki wilayah NTB? Bagaimana prospek iklim di NTB selama periode kemarau tahun ini?

Berdasarkan hasil analisa dari beberapa indikator di atas dapat disimpulkan bahwa hujan lebat yang terjadi di Merauke di akibatkan karena pengaruh dari SST yang cukup hangat, adanya pola tekanan rendah di wilayah Papua Nugini bagian Selatan, adanya daerah konvergensi dan belokan angina di atas wilayah Merauke, adanya pertumbuhan awan konvektif di sebelah timur Merauke, adanya kondisi atmosfer yang tidak stabil, dan dari citra satelit menunjukkan adanya pertumbuhan awan konvektif yang menyebabkan hujan dengan intensitas lebat dalam kurun waktu 15.00 - 23.00 UTC.

Berdasarkan analisis di atas dapat disimpulkan bahwa kejadian hujan lebat yang terjadi di wilayah desa Amahai dan sekitarnya pada tanggal 21 April 2017 diakibatkan oleh suhu muka laut di wilayah kepulauan Maluku yang cenderung hangat. Kondisi ini mendukung pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) yang menyebabkan terjadinya hujan lebat, juga adanya sistem tekanan rendah yang memanjang dari Papua hingga wilayah pulau Seram.serta dari index-index labilitas udara juga mendukung terjadinya thunderstorm dan hujan lebat di wilayah tersebut.

Berdasarkan hasil analisa dari beberapa indikator di atas dapat disimpulkan bahwa kejadian banjir yang terjadi di wilayah Pangkalan Banteng diakibatkan karena adanya pengaruh Suhu Muka Laut yang cukup hangat, adanya sirkulasi eddy, keadaaan atmosfer yang cukup lembab hingga lapisan atas , adanya pertumbuhan awan konvektif yang meluas dalam interval waktu yang cukup lama tepat di wilayah Kalimantan Tengah, dan dari observasi citra radar nilai reflektivitas menunjukkan adanya hujan dengan intensitas sedang - lebat dalam kurun waktu 19.00 - 21.00 UTC.

Hujan yang terjadi di Sumbawa Besar dipicu oleh adanya tekanan rendah di sekitar Pulau Sumbawa yang kemudian membentuk siklon tropis Ernie. Akibat dari adanya tekanan rendah tersebut juga mengakibatkan terbentuknya konvergensi serta shearline di sekitar Pulau Sumbawa. Tekanan rendah tersebut bergerak semakin ke barat daya hingga kemudian membentuk siklon tropis Ernie ketika tekanan tersebut berada di selatan Cilacap.

Secara analisis global, hujan lebat yang terjadi di wilayah Galela di pengaruhi oleh Indeks ENSO & kondisi SST yang cukup hangat. Adanya pusat tekanan rendah, pola konvergensi & shearline tepat diatas wilayah Galela yang menyebabkan terjadinya pembentukan awan - awan konvektif penghasil hujan. Kelembaban relatif (RH) pada lapisan 850, 700, 500 & 200 mb bernilai 60 - 90%. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat kejadian hujan lebat kondisi udara basah hingga lapisan 200 mb, berpotensi untuk perbentukan awan-awan konvektif diatas wilayah Galela. Indeks labilitas udara menunjukkan potensi pembentukan awan konvektif.

Namanya Akademi Meteorologi dan Geofisika dikenal dengan sebutan AMG, dahulu nama AMG tidak begitu familier di masyarakat, dikenal dengan kantor angin, karena lokasi kampusnya ada didalam wilayah kantor Meteorologi dan Geofisika, karena waktu itu juga kantor BMG dikenal dengan kantor angin. Kala itu juga tarunanyapun tidak sebanyak saat ini, jurusan yang ada hanya jurusan meteorologi dan jurusan geofisika, programnyapun hanya Diploma I atau Diploma III dan berlaku sistim gugur bagi taruna yang memang benar benar tidak mampu mengikuti. Namun demikian meskipun saat itu sarana dan prasarana sangat terbatas tapi dalam hal analisa kecuacaan dan kegempaan baik secara teori dan praktik sangat mumpuni, jebolan alumni AMG tidak kalah hebatnya dengan jebolan saat ini, dapat dikatakan sangat qualified karena yang diajarkan memang ilmu aplikasi dibidangnya. Ilmu yang diberikan oleh dosen dosen AMG yang berkompeten juga, artinya ilmu yang diberikan di AMG setara dengan ilmu yang ada di program sarjana S1.

Kejadian pohon tumbang yang teijadi di Jalan HM Rafii dan Jalan Sutan Syahrir disebabkan oleh angin kencang yang ditimbulkan dari adanya deretan awan cumulonimbus di daerah tersebut. Pertumbuhan awan cumulonimbus tersebut terjadi karena adanya gangguan cuaca berupa aliran pertemuan udara (konvergensi) dan deretan tekanan udara rendah di sebelah selatan Indonesia yang dikenal sebagai palung ekuator, lalu didukung oleh keadaan atmofer yang labil serta lembab dengan RH berkisar antara 70 persen hingga 80 persen. Dari data pengamatan stasiun Meteorilogi Iskandar Pangkalan Bun tercatat pada jam 06.00 UTC kecepatan angin sekitar 12 Knot. Kemungkinan pada daerah kejadian pohon tumbang tersebut kecepatan angin lebih besar dikarenakan awan cumulonimbus berada di sebelah barat stasiun meteorologi pangkalan bun dan bergerak dari arah barat menuju stasiun Metelorologi Iskandar Pangkalan Bun.

Berdasarkan hasil analisa dari beberapa faktor di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kejadian hujan sedang dan petir disertai angin kencang di wilayah Pangkalan Bun dipengaruhi oleh adanya awan Cumulonimbus dimana awan jenis ini seringkali mengakibatkan pertambahan kecepatan angin di permukaan atau dalam beberapa kasus dikenal dengan istilah downburst. Angin ini cukup berbahaya bagi lingkungan sekitar dan jika keadaan bertambah parah bukan tidak mungkin akan meningkat menjadi putting beliung.

Secara analisis global, hujan sedang yang terjadi di wilayah kota Nabire dan sekitarnya dipengaruhi Indeks ENSO, adanya BIBIT SIKLON TROPIS serta kondisi SST yang cukup hangat. Adanya pusat tekanan rendah, pola konvergensi & shearline tepat diatas wilayah Nabire yang menyebabkan terjadinya pembentukan awan - awan konvektif penghasil hujan. Kelembaban relatif (RH) pada lapisan 850, 700, 500 & 200 mb bernilai 60 - 90 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat kejadian hujan sedang kondisi udara basah hingga lapisan 200 mb, sangat berpotensi untuk perbentukan awan-awan konvektif diatas wilayah Nabire. Kondisi atmosfer yang labil.

  • 29 Apr 2017, 17:02:15 WIB
  • 5.5 Richter Scale
  • 10 Km
  • 9.55 S - 111.82 E
  • 162 km SouthWest TULUNGAGUNG-JATIM
  • does not generate TSUNAMI
  • Read More →
  • 27 Apr 2017, 14:03:13 WIB
  • 4.7 SR
  • 29 Km
  • 8.83 LS 112.49 BT
  • Pusat gempa berada di laut 89 km Tenggara Blitar
  • Felt (MMI Scale) : II-III Trenggalek, II-III Ponorogo, II-III Tulungagung, II-III Blitar,
  • Read More →

Press Release & Actual Information