Artikel yang Anda cari tidak diketemukan!

Kemungkin artikel ini tidak menggunakan 2 (dua) bahasa. Silahkan memilih langkah berikut

Gunakan Bahasa Indonesia Halaman Depan

Artikel Lainnya

Fenomena hujan lebat bukan merupakan hal baru di wilayah Indonesia yang memiliki iklim tropis. Kondisi curah hujan dengan intensitas tinggi, durasi yang cukup lama serta pendistribusian hujan yang tidak merata dapat menyebabkan banjir dan longsor di suatu tempat. Berdasarkan informasi media online liputan6.com, banjir yang terjadi sejak Rabu dinihari pada tanggal 21 Desember 2016, menyebabkan ribuan rumah di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat terendam banjir bandang. Melihat dampak yang terjadi, maka perlu dilakukan kajian kondisi meteorologi dengan pendekatan dalam skala global, regional, dan lokal menggunakan data-data reanalisis seperti data suhu muka laut, data kelembapan udara, data pola pergerakan angin, dan data medan tekanan. Selain data diatas dilakukan pula analisis cuaca menggunakan citra inderaja seperti satelit cuaca serta memanfaatkan data model numerikal untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Berdasarkan hasil analisis dalam ketiga skala tersebut diperoleh hasil bahwa hujan lebat yang mengguyur wilayah Kota Bima merupakan akibat hangatnya suhu muka laut yang mendukung terjadinya penguapan sehingga uap air tersedia dalam jumlah cukup. Gangguan cuaca berupa siklon tropis "YVETTE" mengakibatkan terjadinya belokan dan perlambatan angin di atas wilayah Pulau Sumbawa bagian timur sehingga terjadi pertumbuhan aktif awanawan konvektif yang mengakibatkan hujan terus menerus.

Telah terjadi puting beliung di dusun kloangur, desa watudiran,Kec. Waigete pada pukul 00.12 WITA dini hari yang mana kejadian ini mengakibatkan kerusakan pada 8 rumah penduduk dan 1 SDK rusak berat.

Analisis beberapa paramater cuaca diatas menujukkan bahwa kondisi udara di wilayah Pangkalpinang sangat mendukung terjadinya awan konvektif (Cumulonimbus) yang dapat juga menyebabkan terjadinya angin kencang.

Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang tingkat kegempaannya tinggi. Generator penggerak gempabumi di wilayah NTT disebabkan oleh adanya tumbukan Lempeng Indo-Australia yang menunjam terhadap Lempeng Eurasia, hal ini menyebabkan terjadinya zona subduksi di sepanjang wilayah selatan NTT. Adapun akibat pergerakan lempeng tektonik menyebabkan terjadinya patahan naik busur belakang atau yang biasa disebut patahan naik (back arc thrust) dan beberapa patahan lokal di wilayah NTT. Berdasarkan kondisi tektonik, NTT merupakan wilayah yang sangat kompleks pola tektoniknya. Hasil monitoring gempabumi 4 tahun (2012-2015) di Regional Seismic Center (RSC) Kupang, telah tercatat 2636 kali kejadian gempabumi di wilayah NTT

Secara umum sumber gempa di daratan Sumatra dapat disebabkan oleh aktifitas sesar lokal maupun aktifitas sesar lokal maupun aktifitas zona subduksi. Perbedaan kedua sumber gempa tersebut dapat dilihat dari kedalamn sumber gempa. Gempa akibat aktifitas sesar lokal memiliki karakteristik kedalaman sumber gempa dangkal, sedangkan untuk sumber gempa akibat subduksi lempeng di Pulau Sumatra mempunyai kisaran kedalaman hingga ratusan kilometer. Gempabumi yang terjadi di barat daya Deliserdang Sumatra Utara pada hari Senin 16 Januari 2017, 19:42:12 WIB ini jika ditinjau dari kedalaman hiposenternya merupakan jenis gempabumi dangkal dan mempunyai mekanisme sesar mendatar. Hal ini berarti gempabumi ini terjadi akibat aktifitas sesar lokal. Dengan kedalaman yang dangkal ini, sangat wajar jika guncangan akibat gempa ini dirasakan tidak terlalu luas. Patut disyukuri bahwa kekuatan gempabumi ini tidak terlalu besar, sehingga diharapkan tidak sampai menimbulkan kerusakan berat.

Berdasarkan informasi dari media online (www.radarsorong.com) tertanggal senin, 09 Januari 2017, menyebutkan telah terjadi banjir di daerah Pasar Youtefa dan Perumahan Organda, Padang Bulan, Jayapura pada malam hari tanggal 07 Januari 2017 yang diakibatkan oleh adanya hujan lebat dengan durasi cukup lama.

Telah terjadi kejadian berupa hujan sedang & angin kencang dengan kecepatan angin maksimum mencapai 25 Knot (50 km/jam) yang berhembus dari arah selatan sekitar pukul 20.55 WIT.

Terjadi banjir hingga setinggi 1 meter yang menghanyutkan beberapa rumah beserta harta para warga. Banjir tersebut terjadi akibat meluapnya kali-kali kecil di kawasan atas Wolonmanget hingga akhirnya menerjang puluhan unit rumah di sisi timur ruas jalan trans utara Flores.

Gempabumi merupakan sebuah fenomena alam yang terjadi akibat adanya interaksi antar lempeng bumi. interaksi ini menjadi pemicu utama adanya sebuah proses tegangan pada batuan. Proses tegangan pada batuan akan terus berlangsung hingga sifat elastisitas batuan tercapai. Ketika batuan tersebut telah mencapainya, maka proses regangan akan terjadi dengan diikuti oleh proses pelepasan energi. Pelepasan energi pada interaksi tersebut akan dipancarkan ke segala arah hingga ke permukaan bumi. permukaan bumi akan merespon gelombang tersebut dalam bentuk getaran. Getaran tersebut yang dirasakan oleh manusia dan dikatakan sebagai sebuah gempabumi.

Berdasarkan analisis diatas dapat disimpulkan bahwa angin kencang yang terjadi di wilayah Kabupaten Nabire dan sekitarnya diakibatkan karena kondisi SST yang cukup hangat, adanya shearline dan sirkulasi Eddy di sekitar wilayah Nabire yang menyebabkan terjadinya pembentukan awan Cumulonimbus (Cb) yang menyebabkan terjadi angin kencang. Hal ini juga didukung dengan RH lapisan 850 & 700 mb yang cukup basah,berkisar antara 60 80 %.

  • 18 Jan 2017, 17:51:39 WIB
  • 5.2 Richter Scale
  • 10 Km
  • 7.14 S - 105.31 E
  • 122 km SouthWest LEBAK-BANTEN
  • does not generate TSUNAMI
  • Read More →
  • 17 Jan 2017, 18:48:26 WIB
  • 5.6 SR
  • 10 Km
  • 6.09 LU 93.24 BT
  • Pusat gempa berada di laut 234 km BaratLaut Kota Sabang
  • Dirasakan: III Banda Aceh, I-II Pidie Jaya, I-II Lhokseumawe, II-III Meulaboh,

Press Release & Actual Information