Analisis Cuaca Ekstrem Angin Puting Beliung di Cilacap (11 Maret 2017)

  • 17 Mar 2017
  • EUSEBIO ANDRONIKOS SAMPE (PMG Pelaksana Sta. Met. Kelas III Moanamani - Nabire BMKG)

CILACAP (wartamerdeka.net) - Hujan disertai angin puting beliung yang terjadi pada Sabtu (11/03/2017) pukul 16.30 WIB, menumbangkan sedikitnya ratusan pohon, baik Pinus maupun Mahoni Aprika (Autheuca) di kawasan hutan Bakung-Cipodol, wilayah BKPH Majenang, RPH Cimanggu, Cilacap, Jateng. Hal itu berdasarkan informasi dari Kepala BKPH Majenang, Agung Heru Sasongko dalam pesan singkatnya kepada wartamerdeka. Lebih lanjut, Agung yang terus melakukan inspeksi di lokasi sampai sore tersebut menginformasikan bahwa kejadian tersebut berawal dari hujan lebat disertai angin puting beliung pada pukul 16.30 WIB di wilayah Cimanggu, tepatnya Dusun Bakung, Cipodol (Rt 01/06 ), Desa Cilempuyang, Kecamatan Cimanggu, Kab Cilacap,Jateng. Kejadian tersebut masuk wilayah kelola Perum Perhutani BKPH Majenang, RPH Cimanggu.

Artikel Lainnya

Berdasarkan analisis kondisi meteorologis, belokan angin dan penumpukan atau konvergensi massa udara basah yang didukung dengan kelembaban yang tinggi dari permukaan hingga lapisan 850 hPa di wilayah Sulawesi tenggara menyebabkan potensi pertumbuhan awan-awan hujan konvektif jenis Cumulonimbus (CB) semakin tinggi khususnya diwilayah Kota Kendari dan sekitarnya. Belokan angin dan konvergensi yang terjadi disebabkan oleh adanya gangguan atmosfer berupa tekanan udara rendah di sekitar laut Sulawesi sebesar 925 hPa. Angin yang bertiup kencang (sekitar 25 knot) dari daerah perairan laut Banda dan perairan Kepulauan Wakatobi membawa massa udara basah akibat Suhu Muka Laut (SST) yang cukup tinggi dan menumpuk di wilayah Kota Kendari dan sekitarnya. Dari citra satelit, pertumbuhan awan hampir menutupi wilayah Sulawesi tenggara sepanjang hari mulai tanggal 11 Mei 2017 sampai tanggal 14 Mei 2017 yang menyebabkan terjadi banjir di Kota Kendari dan beberapa kabupaten di sekitarnya. Jadi banjir yang terjadi di Kota Kendari dan sekitarnya pada tanggal 14 Mei 2017 juga merupakan dampak curah hujan yang tinggi dan berlangsung terus menerus selama 3 hari sejak tanggal 11 Mei 2017 sore hari pukul 17.30 WITA hingga puncaknya pada pagi hari tanggal 14 Mei pukul 11.00 WITA.

Secara analisis global, hujan lebat yang terjadi di wilayah kota Nabire dan sekitarnya dipengaruhi Indeks ENSO, OLR serta kondisi SST yang cukup hangat. Adanya pola shearline & Eddy sekitar wilayah Nabire yang menyebabkan terjadinya pembentukan awan-awan konvektif penghasil hujan. Kelembaban relatif (RH) pada lapisan 850, 700, 500 & 200 mb bernilai 65 - 85%. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat kejadian hujan lebat kondisi udara basah hingga lapisan 500 mb, sangat berpotensi untuk perbentukan awan-awan konvektif diatas wilayah Nabire Dari klasifikasi jenis awan diketahui awan yang terbentuk adalah awan Cumulonimbus (Cb) yang dapat diketahui berdasarkan suhu puncak awan pada counter line satelit Himawari 8 EH yaitu (-69) s/d (-75) 0C yang berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Kondisi atmosfer yang labil.

Kondisi SST yang hangat (> 27,0 derajat Celsius) di sekitar perairan Kepulauan Alor Adanya gangguan berupa daerah tekanan rendah di Samudera Hindia sebelah Selatan NTB sehingga menyebabkan wilayah Kepulauan Alor menjadi wilayah perlambatan (shear) dan konvergensi (pumpunan) massa udara, Kelembaban udara (RH) di wilayah kepulauan Alor cenderung yang basah hingga lapisan 700 mb. Kondisi udara (atmosfer) di kepulauan Alor dalam kondisi "labil" yang ditunjukkan oleh Indeks Labilitas.

Meskipun beberapa hari terakhir ini hujan masih setia mengguyur sebagian wilayah NTB seperti Kota Mataram, sebagian Lombok Barat dan Lombok Tengah, namun di daerah lainnya seperti di Bima, Kota Bima, Dompu, Sumbawa bagian timur, dan sebagian Lombok Timur curah hujan terpantau sudah mulai berkurang. Apakah hal ini mengindikasikan musim kemarau mulai memasuki wilayah NTB? Bagaimana prospek iklim di NTB selama periode kemarau tahun ini?

Secara analisa global, kejadian hujan es & angin kencang yang terjadi di wilayah Bandung dan sekitarnya, dipengaruhi oleh OLR, DMI & kondisi SST yang cukup hangat. Adanya pola konvergensi & adanya daerah sirkulasi tertutup (Eddy) di sekitar wilayah Bandung yang menyebabkan terjadinya pembentukan awan - awan konvektif penghasil hujan lebat, hujan es maupun angin kencang. Kelembaban relatif (RH) pada lapisan 850, 700, 500 & 200 mb bernilai 60-90 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat kejadian angin kencang, kondisi udara cukup basah sebagai penyuplai pertumbuhan awan-awan konvektif di dukung dengan pemasanan waktu siang hari di sekitar wilayah Bandung. Kondisi udara yang labil.

Berdasarkan hasil analisa dari beberapa indikator di atas dapat disimpulkan bahwa hujan lebat yang terjadi di Merauke di akibatkan karena pengaruh dari SST yang cukup hangat, adanya pola tekanan rendah di wilayah Papua Nugini bagian Selatan, adanya daerah konvergensi dan belokan angina di atas wilayah Merauke, adanya pertumbuhan awan konvektif di sebelah timur Merauke, adanya kondisi atmosfer yang tidak stabil, dan dari citra satelit menunjukkan adanya pertumbuhan awan konvektif yang menyebabkan hujan dengan intensitas lebat dalam kurun waktu 15.00 - 23.00 UTC.

Berdasarkan analisis di atas dapat disimpulkan bahwa kejadian hujan lebat yang terjadi di wilayah desa Amahai dan sekitarnya pada tanggal 21 April 2017 diakibatkan oleh suhu muka laut di wilayah kepulauan Maluku yang cenderung hangat. Kondisi ini mendukung pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) yang menyebabkan terjadinya hujan lebat, juga adanya sistem tekanan rendah yang memanjang dari Papua hingga wilayah pulau Seram.serta dari index-index labilitas udara juga mendukung terjadinya thunderstorm dan hujan lebat di wilayah tersebut.

Secara analisis global, hujan sedang yang terjadi dua hari berturut-turut di wilayah kota Nabire dan sekitarnya dipengaruhi Indeks ENSO, OLR serta kondisi SST yang cukup hangat. Adanya pusat tekanan rendah, pola konvergensi & shearline tepat diatas wilayah Nabire yang menyebabkan terjadinya pembentukan awan - awan konvektif penghasil hujan. Kelembaban relatif (RH) pada lapisan 850, 700, 500 & 200 mb bernilai 70-90 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat kejadian hujan sedang dua hari berturut-turut kondisi udara basah hingga lapisan 500 mb, sangat berpotensi untuk perbentukan awan-awan konvektif diatas wilayah Nabire Kondisi atmosfer yang labil.

Berdasarkan hasil analisa dari beberapa indikator di atas dapat disimpulkan bahwa kejadian banjir yang terjadi di wilayah Pangkalan Banteng diakibatkan karena adanya pengaruh Suhu Muka Laut yang cukup hangat, adanya sirkulasi eddy, keadaaan atmosfer yang cukup lembab hingga lapisan atas , adanya pertumbuhan awan konvektif yang meluas dalam interval waktu yang cukup lama tepat di wilayah Kalimantan Tengah, dan dari observasi citra radar nilai reflektivitas menunjukkan adanya hujan dengan intensitas sedang - lebat dalam kurun waktu 19.00 - 21.00 UTC.

Hujan yang terjadi di Sumbawa Besar dipicu oleh adanya tekanan rendah di sekitar Pulau Sumbawa yang kemudian membentuk siklon tropis Ernie. Akibat dari adanya tekanan rendah tersebut juga mengakibatkan terbentuknya konvergensi serta shearline di sekitar Pulau Sumbawa. Tekanan rendah tersebut bergerak semakin ke barat daya hingga kemudian membentuk siklon tropis Ernie ketika tekanan tersebut berada di selatan Cilacap.

  • 19 Mei 2017, 18:44:03 WIB
  • 5.0 SR
  • 10 Km
  • 1.12 LS - 126.86 BT
  • 105 km BaratLaut HALMAHERASELATAN-MALUT
  • tidak berpotensi TSUNAMI
  • Selengkapnya →
  • 23 Mei 2017, 15:18:12 WIB
  • 2.8 SR
  • 10 Km
  • 8.61 LS 123.45 BT
  • Pusat gempa berada di darat 15 km BaratDaya Lembata
  • Dirasakan (Skala MMI) : III Lembata,
  • Selengkapnya →

Siaran Pers & Info Aktual