Analisis Kondisi Cuaca Ekstrim Angin Puting Beliung di Sukabumi (03 Juni 2017)

  • 11 Jun 2017
  • EUSEBIO ANDRONIKOS SAMPE, S.Tr (PMG Pelaksana Lanjutan Sta. Met. Kelas III Moanamani - Nabire BMKG)

Secara analisa global, kejadian angin puting beliung yang terjadi di wilayah Sukabumi, dipengaruhi oleh kondisi SST yang cukup hangat. Adanya pola shearline belokan angin di sekitar wilayah Sukabumi, yang berasal perairan sebelah selatan pulau Jawa, yang dapat menyebabkan terjadinya pembentukan awan-awan konvektif penghasil hujan lebat, angin kencang maupun angin puting beliung.. Kelembaban relatif (RH) pada lapisan 850, 700, 500 & 200 mb bernilai 70 - 90%. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi udara cukup basah hingga pada lapisan 200 mb saat kejadian angin puting beliung. Kondisi udara basah tersebut sebagai penyuplai pertumbuhan awan-awan konvektif di dukung dengan pemasanan waktu siang hari di sekitar wilayah Sukabumi. Dari klasifikasi jenis awan diketahui awan yang terbentuk adalah awan Cumulonimbus (Cb) yang dapat diketahui berdasarkan suhu puncak awan pada counter line satelit Himawari 8 EH yaitu (-69) s/d (-75) derajat Celsius, yang sangat berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, angin kencang maupun angin puting beliung. Kondisi udara yang labil.

Artikel Lainnya

Berdasarkan pengukuran curah hujan yang dilakukan di Stasiun klimatologi Jembrana-Bali, dapat dilaporkan telah terjadi hujan ekstrim (lebih dari 100 mm/hari) pada Senin 26 Juni 2017. Hujan mulai terjadi sekitar pukul 13.00 WITA dan semakin meluas hingga pukul 02.00 WITA dini hari, dengan puncak hujan sekitar pukul 18.00 hingga 21.00 WITA. Dalam kurun waktu 12 jam, curah hujan tertakar sebanyak 104.2 Liter di alat penakar hujan Stasiun Klimatologi Jembrana. Informasi yang dihimpun dari media masa (27 Juni 2017) menyebutkan Hujan yang mengguyur Kota Negara sejak sore Hingga malam hari tersebut mengakibatkan sejumlah titik banjir. Titik terparah yang mengalami banjir adalah pemukiman warga di dekat Sungai Kaliakah, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara (Gambar 1). Ketinggian air hingga merendam tempat tidur dan perabot warga. Dari informasi terdapat ratusan rumah yang terkena banjir. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini

Meskipun Indonesia secara langsung tidak dilintasi siklon tropis, tapi pengaruhnya tetap ada seperti hujan lebat yangdsertai angin kencang dan gelombang tinggi. Hal lain yang hampir dilupakan para pakar cuaca yaitu bagaimana karakteristik unsur cuaca secara vertical sebelum, saat dan sesudah siklon tropis tumbuh disekitarnya. Salah satu siklon tropi yang terbentuk di area pemantauan TCWC Jakarta yaitu Siklon Tropis Bakung yang terjadi pada bulan Desember 2014. Kajian ini membahas dampak siklon tropis Bakung terhadap profil vertikal suhu, Lifting index, Kindex terkait dengan peluang terjadinya thunderstorm dan wind shear vertical. Sampel data diambil dari stasiun yang dekat dengan posisi siklon tropis, yakni Cengkareng, Padang, Pangkal Pinang, Bengkulu, Palembang, Lampung, dan Serang. Analisa yang dilakukan yakni analisa terhadap Lapse rate, Indeks peluang terjadinya Thunderstorm, Vertical Wind Shear dan analisa Hodograf. Dari hasil analisa diperoleh bahwa siklon tropis Bakung berlangsung selama tiga hari dengan pergerakan kearah Barat- Barat daya. Keadaan lapse rate di Padang, Cengkareng dan Pangkal Pinang umumnya berkisar antara 5.0-5.5 derajat Celsius/km lebih rendah dari nlia standarnya 9,8 derajat Celsius/km. indeks Lifting dan K indek umumnya sebelum, saat dan sesduah ada siklon menunjukan peluang trejadinya thunderstorm cukup tinggi, analisa hodograph di staasiun meteorologi penelitian menunjukan stabilitas udara yang labil, data hasil analisa windshear umumnya menunjukan intensitas lemah.

Setelah dilakukan analisa terhadap beberapa parameter cuaca di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penyebab tingginya gelombang di Laut Jawa di akibatkan oleh pengaruh dari adanya sistem tekanan rendah (1000hpa) di Laut China Selatan yang menyebabkan adanya pergerakan massa udara dari Indonesia ke Laut China Selatan dengan kecepatan angin yang cukup signifikan sehingga mengakibatkan tingginya gelombang laut. Berdasarkan analisis data arah dan kecepatan angin permukaan air laut serta tinggi gelombang pada tanggal 15 Juli 2017 saat terjadi tenggelamnya KLM Karya Bersama, tinggi gelombang mencapai 1.00 - 3.00 Meter termasuk dalam kategori tinggi dan kecepatan angin berkisar antara 8 - 30 Knots atau 16 - 60 Km/Jam. Berdasarkan hasil analisa dari citra radar stamet iskandar (HWIND) jam 08.00 - 08.50 WIB pada sekitaran wilayah muara seruyan kecepatan angin berkisar antara 15-30 Knots atau 30-60 Km/Jam, hal ini yang meyebabkan tingginya gelombang di sekitar muara seruyan dan mengakibatkan teggelamnya KLM Karya Bersama.

Berdasarkan data dari Badan Mateorologi Klimatologi dan Geofisika serta ditunjang data input prakiraan cuaca yang digunakan dalam operasional Stasiun Meteorologi Klas I Pangkalpinang, kondisi cuaca di wilayah Kepulauan Bangka Belitung umumnya berawan dengan potensi hujan ringan hingga sedang. Namun masih perlu diwaspadai adanya potensi hujan lebat pada sebagian wilayah Bangka Belitung terutama pada siang/sore hari.

Berdasarkan data dari Badan Mateorologi Klimatologi dan Geofisika serta ditunjang data input prakiraan cuaca yang digunakan dalam operasional Stasiun Meteorologi Klas I Pangkalpinang, kondisi cuaca di wilayah Kepulauan Bangka Belitung umumnya berawan dengan potensi hujan ringan hingga sedang. Namun masih perlu diwaspadai adanya potensi hujan lebat pada sebagian wilayah Bangka Belitung terutama pada siang/sore hari dan dini hari.

Sumber utama dari gangguan pada bumi khususnya medan geomagnet bumi yaitu Matahari. Matahari memancarkan elektromagnetik yang sangat kuat ke bumi yang dapat menghasilkan fenomena-fenomena seperti aurora, coronal holes, cme, badai matahari dan lain- lain. Dampak badai geomagnetik memang tidak secara langsung berdampak ke manusia, tetapi berdampak pada teknologi yang digunakan oleh manusia. Dampak ini diantaranya yaitu terganggunya sinyal radio HF maupun terganggunya sinyal yang dipancarkan oleh satelit sehingga dapat berpengaruh terhadap komunikasi. Hal ini dirasakan pada pengguna handphone, BTS, Komunikasi Pesawat dan lain-lain. Dampak lainnya yang begitu fenomenal yaitu terbakarnya trafo pembangkit listrik yang pernah terjadi di daerah Quebec pada tahun 1989.

Analisis Kejadian Hujan Lebat di Medan dan Sekitarnya (24 Juni 2017)

Dari peta streamline, pola angin dengan ketinggian 3000 feet pada tanggal 03 Juli 2017 jam 00 UTC menunjukkan adanya arus siklonik tertutup atau Eddy yang berpusat di Selat Karimata sebelah barat Kalimantan Barat. Adanya belokan angin (shearline) di sekitar Eddy secara otomatis terjadi di atas Kepulauan Bangka Belitung khususnya di Pulau Belitung. Kondisi ini menyebabkan perlambatan kecepatan angin sehingga meningkatkan pengangkatan udara ke atas dan potensi pertumbuhan awan-awan konvektif yang dapat mengakibatkan hujan lebat.

Berdasarkan gambar gerak semu matahari, tanggal 01 Juli 2017 terlihat posisi matahari berada di Belahan Bumi Utara (BBU). Hal ini berarti radiasi matahari akan lebih banyak diterima di daerah BBU dibandingkan dengan di deaerah BBS. Hal ini dapat menimbulkan pemanasan yang lebih banyak di daerah BBU yang dapat berakibatkan pada penurunan tekanan dan peningkatan awan-awan konvektif di daerah BBU.

Kejadian curah hujan ekstrim yang terjadi pada pertengahan bulan Juni 2017 di wilayah NTB khususnya di wilayah Kota Mataram dan sebagian Lombok Barat merupakan fenomena yang jarang terjadi. Bulan Juni merupakan bulan musim kemarau di wilayah NTB, tetapi karena adanya ganguan dinamika atmosfer sehingga dapat terjadi kondisi ekstrim. Curah hujan yang terjadi pada tanggal 12-13 Juni 2017 hampir terjadi merata di wilayah Lombok walaupun dengan intensitas yang berbeda. Curah hujan dengan intensitas tinggi umumnya terjadi di wilayah Kota Mataram dan sebagian Kabupaten Lombok Barat. Seperti dilansir dari Republika.co.id wilayah kota Mataram yang terdampak paah yaitu di wilayah Kekalik Jaya kecamatan Sekarbela. Sementara untuk wilayah Lombok Barat seperti dilansir dari kicknews.today terdapat 340 kepala keluarga mengungsi di kecamatan Labuapi. Selain di wilayah Labuapi genangan air juga terjadi di desa Lembuak kecamatan Narmada. Berdasarkan informasi dari kepala BPBD Kabupaten Lombok Barat, banjir terjadi bukan hanya karena hujan lebat yang terjadi dari siang hari yaitu pukul 13.00 wita hingga pukul 19.00 wita tetapi juga disebabkan oleh saluran air yang tidak berfungsi normal sehingga tidak dapat menampung limpahan air dari wilayah yang lebih tinggi.

  • 26 Jul 2017, 06:57:49 WIB
  • 5.0 SR
  • 10 Km
  • 5.72 LS - 101.31 BT
  • 23 Jul 2017, 19:28:58 WIB
  • 4.2 SR
  • 5 Km
  • 6.82 LS 112.48 BT
  • Pusat gempa berada di Laut 35 km Timur Laut Kab.Lamongan
  • Dirasakan (Skala MMI) : II-III Lamongan, II-III Tuban, II-III Gresik,
  • Selengkapnya →

Siaran Pers & Info Aktual