Distribusi Temperatur di Wilayah Papua dan Papua Barat Saat Titik Equinox 23 September 2017

  • 10 Okt 2017
  • EUSEBIO ANDRONIKOS SAMPE, S.Tr (PMG Pelaksana Lanjutan Sta. Met. Kelas III Moanamani - Nabire BMKG)

Distribusi temperatur di wilayah Papua dan Papua Barat saat titik Equinox 23 September 2017 dan perbandingannya dengan titik Equinox 21 Maret 2017

Artikel Lainnya

Kondisi Iklim di wilayah Lampung bagian barat sangat berbeda dengan kabupaten- kabupaten lainnya yang ada di wilayah Provinsi Lampung karena Topografi Lampung bagian Barat memiliki khas tersendiri yaitu diapit oleh Bukit Barisan disebelah Timur dan Samudra Hindia sebelah Barat. Oleh karenanya iklim wilayah Lampung bersifat lokal dan sangat mudah berubah dan memiliki potensi terjadinya cuaca ekstrim. Berdasarkan informasi media www.tribunnews.com lihat Lampiran I hal.8, pada tanggal 11 Oktober 2017 telah terjadi cuaca ekstrim berupa hujan dengan intensitas lebat yang mengakibatkan Jembatan di Way Mehenai di Kecamatan Krui Selatan Kabupaten Pesisir Barat terputus, disebabkan derasnya arus sungai karena intensitas hujan yang sangat tinggi saat kejadian.

Banjir yang terjadi disebagian wilayah Kabupaten Banyumas Jawa Tengah terjadi akibat adanya peningkatan curah hujan yang terjadi pada akhir Dasarian ke I hingga awal Dasarian II bulan Oktober 2017 dan puncaknya pada tanggal 15 Oktober 2017 khususnya wilayah dataran tinggi Peg. Slamet, dimana sebagian masuk dalam kategori hujan Sedang hingga sangat lebat dan perbandingan curah hujan terhadap normalnya terjadi peningkatan.

Berdasarkan informasi media www.tribunnews.com, pada tanggal 27 September 2017 telah terjadi cuaca ekstrim berupa hujan dengan intensitas lebat yang mengakibatkan banyak sawah dan jalan-jalan yang terendam air dan meluap di dua desa (Rejomulyo dan Kalirejo) Kecamatan palas Lampung Selatan. Pantauan citra satelit menunjukan konsentrasi awan di wilayah Lampung bagian Selatan dan Timur sangat kuat, berdasarkan pengamatan cuaca di Stamet radin Inten II Lampung, hujan mulai teramati pada malam hingga dini hari dan terukur curah hujan 41,5 mm/jam. Ini berarti curah hujan yang terjadi kategori ekstrem. Akan tetapi penulis yakin bahwa hujan yang terjadi di dua desa tersebut, Kecamatan palas saat kejadian dalam kategori Lebat (>50 mm). Hasil analisis menunjukkan bahwa curah hujan yang tinggi dan berdurasi lama disebabkan pengaruh sirkulasi Eddy di sebelah Barat Bengkulu, sehingga memengaruhi terbentuk pertemuan massa udara di atas wilayah Lampung dan mengakibatkan tumbuhnya awan-awan konvektif kuat yang menghasilkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

Pada hari Sabtu, tanggal 7 Oktober 2017, tepat pada pukul 10:30 WIB, telah terjadi aktivitas sambaran petir yang mengakibatkan meninggalnya dua orang siswa SMP Al Alaq Aceh Utara (Jafaruddin, 2017). Sambaran petir yang terjadi juga mengakibatkan sepuluh orang luka ringan dan satu orang dalam kondisi kritis. Peristiwa ini terjadi bermula saat seluruh korban sedang berteduh dari hujan deras di sebuah kantin. Hujan deras yang saat bersamaan juga disertai dengan petir menyabar salah satu pohon (Gambar 1) yang berada di dekat kantin tempat para korban berteduh, sambaran petir pada pohon secara langsung juga menyambar para korban.

Telah terjadi hujan dengan intensitas ringan, sedan, dan lebat selama 6 (enam) hari berturut-turut di wilayah Kota Nabire dan sekitarnya.

Ketika hujan turun di wilah Jakart dan sekitarnya, memang sangat menggembirakan masyarakat di Jakarta, bahkan hujan tidak hanya menguyur kota Jakarta tapi menggenai beberapa tempat di propinsi Banten, begitu juga Bekasi pun turut serta diguyur hujan, intensitas hujan cukup bervariasi mulai dari ringan sampai lebat, umumnya hujan terjadi antara dini hari hingga pagi hari. Tidak hanya itu hujan lebat turun. Tidak hanya hujan di Jakarta hujan juga mengguyur kota subang, menurut berita di media tiga rumah warga di Kampung Pasir Jambe RT 03/01 Desa Gardusayang, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, Jawa Barat rusak diterjang banjir bandang. Dari hujan lebat ini seperti biasanya beberapa daerah di Jakarta tergenang, mungkin karena memang sistim drainasenya yang kurang baik.

Waspada Bahaya dan Risiko Gempabumi Pada Konstruksi Waduk

Secara analisis global, hujan lebat & angin kencang yang terjadi di wilayah kota Nabire dan sekitarnya dipengaruhi OLR, Indeks SOI serta kondisi SST yang cukup hangat. Adanya pola Low (daerah tekanan rendah), pola Eddies (sirkulasi daerah tertutup), pola konvergensi & pola shearline (belokan angin) di sekitar wilayah Nabire yang menyebabkan terjadinya pembentukan awan-awan konvektif penghasil hujan lebat & angin kencang. Kelembaban relatif (RH) pada lapisan 850, 700, 500 & 200 mb bernilai 80-90%. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat kejadian hujan lebat & angin kencang kondisi udara basah hingga lapisan 200 mb, sangat berpotensi untuk perbentukan awan-awan konvektif diatas wilayah Nabire.

Telah terjadi hujan lebat sekitar pukul 19.00 s/d 08.00 WIT di wilayah Kota Nabire dan sekitarnya pada 13 September 2017. Dampak hujan lebat yang terjadi (+- 13 jam) tersebut menyebabkan beberapa genangan air di sekitar ruas jalan di Kota Nabire.

  • 20 Okt 2017, 04:18:43 WIB
  • 5.0 SR
  • 25 Km
  • 2.56 LU - 95.83 BT
  • 20 Okt 2017, 07:37:15 WIB
  • 2.8 SR
  • 1 Km
  • 3.6 LS 102.65 BT
  • Pusat gempa berada di darat 8 km timur laut Kepahiang
  • Dirasakan (Skala MMI) : III Kepahiang,
  • Selengkapnya →

Siaran Pers & Info Aktual