Keterkaitan Hujan Lebat Di Sumbawa Besar Dengan Pertumbuhan Siklon Tropis Ernie

  • 20 Apr 2017
  • SOFI AULIA SUPROBO (SPT. PMG Pelaksana Sta. Met. Kelas III Sultan Muhammad Kaharuddin - Sumbawa BMKG)

Hujan yang terjadi di Sumbawa Besar dipicu oleh adanya tekanan rendah di sekitar Pulau Sumbawa yang kemudian membentuk siklon tropis Ernie. Akibat dari adanya tekanan rendah tersebut juga mengakibatkan terbentuknya konvergensi serta shearline di sekitar Pulau Sumbawa. Tekanan rendah tersebut bergerak semakin ke barat daya hingga kemudian membentuk siklon tropis Ernie ketika tekanan tersebut berada di selatan Cilacap.

Artikel Lainnya

Berdasarkan hasil analisa dari beberapa indikator di atas dapat disimpulkan bahwa kejadian banjir yang terjadi di wilayah Pangkalan Banteng diakibatkan karena adanya pengaruh Suhu Muka Laut yang cukup hangat, adanya sirkulasi eddy, keadaaan atmosfer yang cukup lembab hingga lapisan atas , adanya pertumbuhan awan konvektif yang meluas dalam interval waktu yang cukup lama tepat di wilayah Kalimantan Tengah, dan dari observasi citra radar nilai reflektivitas menunjukkan adanya hujan dengan intensitas sedang - lebat dalam kurun waktu 19.00 - 21.00 UTC.

Secara analisis global, hujan lebat yang terjadi di wilayah Galela di pengaruhi oleh Indeks ENSO & kondisi SST yang cukup hangat. Adanya pusat tekanan rendah, pola konvergensi & shearline tepat diatas wilayah Galela yang menyebabkan terjadinya pembentukan awan - awan konvektif penghasil hujan. Kelembaban relatif (RH) pada lapisan 850, 700, 500 & 200 mb bernilai 60 - 90%. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat kejadian hujan lebat kondisi udara basah hingga lapisan 200 mb, berpotensi untuk perbentukan awan-awan konvektif diatas wilayah Galela. Indeks labilitas udara menunjukkan potensi pembentukan awan konvektif.

Namanya Akademi Meteorologi dan Geofisika dikenal dengan sebutan AMG, dahulu nama AMG tidak begitu familier di masyarakat, dikenal dengan kantor angin, karena lokasi kampusnya ada didalam wilayah kantor Meteorologi dan Geofisika, karena waktu itu juga kantor BMG dikenal dengan kantor angin. Kala itu juga tarunanyapun tidak sebanyak saat ini, jurusan yang ada hanya jurusan meteorologi dan jurusan geofisika, programnyapun hanya Diploma I atau Diploma III dan berlaku sistim gugur bagi taruna yang memang benar benar tidak mampu mengikuti. Namun demikian meskipun saat itu sarana dan prasarana sangat terbatas tapi dalam hal analisa kecuacaan dan kegempaan baik secara teori dan praktik sangat mumpuni, jebolan alumni AMG tidak kalah hebatnya dengan jebolan saat ini, dapat dikatakan sangat qualified karena yang diajarkan memang ilmu aplikasi dibidangnya. Ilmu yang diberikan oleh dosen dosen AMG yang berkompeten juga, artinya ilmu yang diberikan di AMG setara dengan ilmu yang ada di program sarjana S1.

Kejadian pohon tumbang yang teijadi di Jalan HM Rafii dan Jalan Sutan Syahrir disebabkan oleh angin kencang yang ditimbulkan dari adanya deretan awan cumulonimbus di daerah tersebut. Pertumbuhan awan cumulonimbus tersebut terjadi karena adanya gangguan cuaca berupa aliran pertemuan udara (konvergensi) dan deretan tekanan udara rendah di sebelah selatan Indonesia yang dikenal sebagai palung ekuator, lalu didukung oleh keadaan atmofer yang labil serta lembab dengan RH berkisar antara 70 persen hingga 80 persen. Dari data pengamatan stasiun Meteorilogi Iskandar Pangkalan Bun tercatat pada jam 06.00 UTC kecepatan angin sekitar 12 Knot. Kemungkinan pada daerah kejadian pohon tumbang tersebut kecepatan angin lebih besar dikarenakan awan cumulonimbus berada di sebelah barat stasiun meteorologi pangkalan bun dan bergerak dari arah barat menuju stasiun Metelorologi Iskandar Pangkalan Bun.

Berdasarkan hasil analisa dari beberapa faktor di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kejadian hujan sedang dan petir disertai angin kencang di wilayah Pangkalan Bun dipengaruhi oleh adanya awan Cumulonimbus dimana awan jenis ini seringkali mengakibatkan pertambahan kecepatan angin di permukaan atau dalam beberapa kasus dikenal dengan istilah downburst. Angin ini cukup berbahaya bagi lingkungan sekitar dan jika keadaan bertambah parah bukan tidak mungkin akan meningkat menjadi putting beliung.

Secara analisis global, hujan sedang yang terjadi di wilayah kota Nabire dan sekitarnya dipengaruhi Indeks ENSO, adanya BIBIT SIKLON TROPIS serta kondisi SST yang cukup hangat. Adanya pusat tekanan rendah, pola konvergensi & shearline tepat diatas wilayah Nabire yang menyebabkan terjadinya pembentukan awan - awan konvektif penghasil hujan. Kelembaban relatif (RH) pada lapisan 850, 700, 500 & 200 mb bernilai 60 - 90 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat kejadian hujan sedang kondisi udara basah hingga lapisan 200 mb, sangat berpotensi untuk perbentukan awan-awan konvektif diatas wilayah Nabire. Kondisi atmosfer yang labil.

Kondisi air tanah yang ada di sebagian wilayah Kalimantan Barat masih memiliki kualitas yang terbilang rendah, sedangkan akses jaringan pipa PDAM yang belum menjangkau seluruh wilayah di Kalimantan Barat memaksa masyarakat untuk mencari alternatif lain untuk sumber air bersih dan air minum. Mengandalkan sumber mata air gunung tentu sangat mudah dan murah bagi masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan. Namun bagi masyarakat yg tinggal jauh dari wilayah pegunungan membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk dapat membeli air gunung sebagai sumber air bersih. Menghadapi permasalahan tersebut sebagian masyarakat Kalimantan Barat memilih menggunakan air hujan sebagai sumber air bersih dan air minum. Untuk menampung air hujan masyarakat biasanya mengandalkan atap rumah yang telah dipasangi talang air, kemudian talang air tersebut diarahkan ke dalam tempayan, drum, maupun bak penampungan air. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah air hujan aman untuk dikonsumsi sebagai air minum ?

1. Berdasarkan analisis secara global MJO dan ENSO ditemukan tidak adanya keterkaitan secara signifikan terhadap kejadian hujan di wilayah Balikpapan. 2. Analisis pola Streamline menunjukkan adanya pergerakan massa udara yang kaya akan uap air dari Samudera Pasifik menuju ke belahan bumi bagian utara karena di wilayah BBS terdapat banyak pola tekanan rendah, dimana pada hakikatnya massa udara akan bergerak dari tekanan tinggi menuju ke tekanan rendah. Massa udara yang kaya akan uap air ini melewati wilayah Balikpapan, dan terlihat adanya pembelokan angin di sekitar wilayah Kalimantan, hal ini menyebabkan massa udara yang kaya akan uap air karena berasal dari samudera yang luas mengalami pumpunan massa udara di atas wilayah Balikpapan sehingga kandungan uap air di atas wilayah Balikpapan sangat besar dan berpotensi terbentuknya awan-awan konvektif. 3. Kondisi kelembapan udara diatas wilayah Balikpapan pada tanggal 30 Maret 2017 sangat lembab dari lapisan bawah sampai lapisan atas yaitu dari lapisan 850 mb sampai 200 mb dimana berkisar 80 - 90 persen, dimana kita ketahui kelembapan udara yang tinggi menunjukkan kandungan uap air yang besar, sehingga pembentukan awna-awan konvektif di atas wilayah Balikpapan sangan signifikan. 4. Hujan sangat lebat yang terjadi pada tanggal 30 Maret 2017 di wilayah Balikpapan yang menyebabkan banjir ditinjau dari analisis satelit Himawari 8 EH, ditemukan adanya pembentukan awan-awan konvektif yang di identifikasi dari suhu puncak awannya yang menunjukkan bahwa awan yang terbentuk berienis awan konvektif yaitu awan Cumulunimbus yang sangat besar dan terns meluas dimulai dari jam 04.40 UTC. 5. Analisis K-lndeks menunjukkan bahwa pada tanggal 30 Maret 2017, wilayah Balikpapan berpotensi terjadinya pertumbuhan awan-awan konvektif yang sedang.

Berbagai istilah dalam meteorologi pun semakin marak digunakan dalam bahasa media untuk penyampaian kepada masyarakat. Penggunaan istilah tersebut kadang kala menimbulkan salah pengertian bagi masyarakat umum dan justru membingungkan serta terkadang menimbulkan kekhawatiran dan banyak sanggahan dari kalangan para ahli cuaca. Haleh Kootval, Secretary of Public Weather Services Programme, WMO, tahun 2005 dalam ceramahnya pada pembukaan pelayanan informasi untuk masyarakat mengatakan bahwa hal yang harus dilakukan oleh lembaga penyelenggara meteorologi yaitu: 1) Education and training with the media : 2) Training in Met for the media 3) Training in media for Met staff 4) Participation of media in pre-season campaigns 5) Coordination of coverage of important weather new

  • 25 Apr 2017, 04:28:56 WIB
  • 5.1 SR
  • 10 Km
  • 6.17 LS - 105.36 BT
  • 24 Apr 2017, 01:01:10 WIB
  • 5.4 SR
  • 13 Km
  • 8.1 LS 107.86 BT
  • Pusat gempa berada di laut 58 km BaratDaya Kab. Tasikmalaya
  • Dirasakan (Skala MMI) : II-III Tasikmalaya, II-III Sumedang, II Banjar, II Pangandaran, II Kab. Bandung, II Garut,
  • Selengkapnya →

Siaran Pers & Info Aktual