Keterkaitan Hujan Lebat Di Sumbawa Besar Dengan Pertumbuhan Siklon Tropis Ernie

  • 20 Apr 2017
  • SOFI AULIA SUPROBO (SPT. PMG Pelaksana Sta. Met. Kelas III Sultan Muhammad Kaharuddin - Sumbawa BMKG)

Hujan yang terjadi di Sumbawa Besar dipicu oleh adanya tekanan rendah di sekitar Pulau Sumbawa yang kemudian membentuk siklon tropis Ernie. Akibat dari adanya tekanan rendah tersebut juga mengakibatkan terbentuknya konvergensi serta shearline di sekitar Pulau Sumbawa. Tekanan rendah tersebut bergerak semakin ke barat daya hingga kemudian membentuk siklon tropis Ernie ketika tekanan tersebut berada di selatan Cilacap.

Artikel Lainnya

Pemerintah mempunyai otoritas untuk menetapkan awal puasa dan hari raya umat islam, mengadakan sidang itsbat setiap tahunnya. Hal ini sangat perlu dilakukan, mengingat adanya perbedaan di masyarakat dalam memahami dan menentukan awal bulan qamariyah. Namun demikian pemerintah tidak dapat memaksakan keputusanya untuk dilaksanakan secara menyeluruh oleh masyarakat. Banyak pro dan kontra terhadap sidang itsbat yang diadakan oleh pemerintah. Ada yang menilai bahwa sidang istbat hanyalah seremonial atau tidak ada urgensinya, meski pemerintah sudah menetapkan awal bulan, namun kenyataanya masyarkat tetap menjalankan sesuai dengan keyakinan masing-masing. Keyakinan seseorang tidak dapat dipertentangkan meski itu dengan ulasan teori ilmiah. Setiap ormas islam memiliki kriteria tersendiri dan mempunyai pengikut yang selalu melaksanakan ketetapan ormas tersebut. Persatuan dan keseragaman awal puasa dan hari raya tidak akan terwujud jika hanya pemerintah saja yang mengupayakan. Maka perlulah setiap ormas islam juga menghilangkan ego demi terwujudnya satu keputusan bersama. Kriteria yang ditetapkan setiap ormas merupakan hasil ijtihad yang dapat diubah seiring perkembangan teknologi.

Kondisi SST yang tetap hangat (> 27,0 derajat Celsius) di sekitar perairan Kepulauan Alor. MJO yang aktif pada fase 5 dapat menjadi salah satu penyebab gangguan cuaca di wilayah Timur Indonesia yang berdampak hingga ke wilayah Kepulauan Alor bagian Utara (Mali dan sekitarnya) Adanya gangguan berupa sirkulasi angin tertutup (Eddie) di Papua bagian Barat sehingga menyebabkan wilayah Kepulauan Alor menjadi wilayah perlambatan (shear) dan konvergensi (pumpunan) massa udara, Kelembaban udara (RH) di wilayah kepulauan Alor cenderung yang basah hingga lapisan 700 mb, dan Kondisi udara (atmosfer) di kepulauan Alor dalam kondisi "labil sedang" yang ditunjukkan oleh Indeks Labilitas.

Berdasarkan Tugas pokok dan Fungsinya, Stasiun Klimatologi Seram Bagian Barat dan Stasiun Meteorologi Pattimura Ambon telah membuat Prakiraan Curah Hujan tepat waktu. Terkait dengan potensi bencana, secara cepat dan aktif Stasiun Meteorologi Pattimura telah membuat serta mendiseminasikan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem kepada pemangku kepentingan yang terkait. Kejadian bencana terjadi pada periode Musim Hujan dan dipicu oleh kejadian Curah Hujan Ekstrem pada tanggal 8 Juni 2017 sebesar 159 milimeter. Curah Hujan Ekstrem ini merupakan Curah Hujan tertinggi dan pertama yang terjadi di bulan Juni. Tetapi hanya berada dalam peringkat ke-5 Curah Hujan Maksimum sepanjang periode. Data lampau menyebutkan bahwa lima dari enam kejadian Curah Hujan Ekstrem terjadi di bulan Juli yang merupakan Puncak Musim Hujan. Dalam lima tahun terakhir terlihat kecenderungan peningkatan Intensitas Curah Hujan khususnya pada Dasarian I bulan Juni. Anomali Curah Hujan pada saat kejadian bencana berada dalam kategori Atas Normal, meningkat sebesar 200 % terhadap normalnya. Dinamika Atmosfer dan Laut menunjukkan bahwa MJO tidak aktif di wilayah perairan Indonesia. Adanya belokan angin yang menyebabkan adanya perlambatan massa udara dan adanya peningkatan potensi massa uap air memicu terjadinya peningkatan pembentukan awan-awan hujan. Hal ini terlihat dari kelembaban atmosfer serta konsentrasi Awan hujan yang meningkat di atas pulau Ambon pada tanggal 8 Juni 2017.

Secara analisis global, hujan lebat yang terjadi di wilayah kota Nabire dan sekitarnya dipengaruhi OLR, Indeks ENSO serta kondisi SST yang cukup hangat. Adanya pola konvergensi & pola shearline belokan angin sekitar wilayah Nabire yang menyebabkan terjadinya pembentukan awan-awan konvektif penghasil hujan. Kelembaban relatif (RH) pada lapisan 850, 700, 500 & 200 mb bernilai 70 - 90%. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat kejadian hujan lebat kondisi udara basah, sangat berpotensi untuk perbentukan awan-awan konvektif diatas wilayah Nabire Dari klasifikasi jenis awan diketahui awan yang terbentuk adalah awan Cumulonimbus (Cb) yang dapat diketahui berdasarkan suhu puncak awan pada counter line satelit Himawari 8 EH yaitu (-75) s/d (-80) derajat Celsius yang berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Kondisi atmosfer yang labil.

Berdasarkan analisis cuaca skala regional, SST di wilayah perairan Indonesia relatif cukup hangat termasuk di perairan sekitar Pulau Lombok. SST yang cukup hangat meningkatkan potensi terjadinya penguapan yang memasok uap air untuk terbentuknya awan-awan hujan. Berdasarkan pola angin terlihat daerah pertemuan angin di selat Makassar hingga Laut Jawa dan bagian utara kalimantan. Belokan angin yang terjadi di wilayah NTB mengakibatkan naiknya massa udara sehingga terjadi pembentukan awan-awan konvektif yang menyebabkan terjadinya hujan dengan intensitas lebat. Kondisi ini didukung pula dengan kelembaban relatif di Pulau Lombok pada lapisan 850 mb, 700 mb, dan 500 mb berkisar antara 70-100%. Citra satelit menunjukkan adanya liputan awan yang tebal di atas wilayah Pulau Lombok mulai pukul 11.00 WITA hingga 20.00 WITA dengan suhu kurang dari -56 derajat Celcius yang mengindikasikan adanya awan dingin. Citra radar cuaca menunjukkan terjadinya hujan dengan intensitas ringan hingga lebat yang disertai kilat/ petir terjadi dalam jangka waktu relatif lama di wilayah Ampenan, Sigerongan, Mataram, Narmada dan wilayah Lombok Barat dengan nilai reflektivitas mencapai 55 dBz, yang mengindikasikan adanya pertumbuhan awan-awan konvektif.

Berdasarkan analisis dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa kejadian tanah longsor yang terjadi di Desa Karang Panjang dan Kebun Cengkeh pada tanggal 08 Juni 2017, diakibatkan oleh adanya shearline/belokan angin disekitar wilayah Maluku sehingga menyebakan pembentukan awan-awan hujan berupa awan Altostratus dan Cumulonimbus disekitar wilayah Pulau Arnbon. Selain itu pun, Pulau Arnbon sedang berada pada musim penghujan sehingga keadaan tanah yang sudah jenuh dan tidak dapat lagi menyerap bahkan menampung air dalam jumlah yang besar.

Secara analisa global, kejadian angin puting beliung yang terjadi di wilayah Sukabumi, dipengaruhi oleh kondisi SST yang cukup hangat. Adanya pola shearline belokan angin di sekitar wilayah Sukabumi, yang berasal perairan sebelah selatan pulau Jawa, yang dapat menyebabkan terjadinya pembentukan awan-awan konvektif penghasil hujan lebat, angin kencang maupun angin puting beliung.. Kelembaban relatif (RH) pada lapisan 850, 700, 500 & 200 mb bernilai 70 - 90%. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi udara cukup basah hingga pada lapisan 200 mb saat kejadian angin puting beliung. Kondisi udara basah tersebut sebagai penyuplai pertumbuhan awan-awan konvektif di dukung dengan pemasanan waktu siang hari di sekitar wilayah Sukabumi. Dari klasifikasi jenis awan diketahui awan yang terbentuk adalah awan Cumulonimbus (Cb) yang dapat diketahui berdasarkan suhu puncak awan pada counter line satelit Himawari 8 EH yaitu (-69) s/d (-75) derajat Celsius, yang sangat berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, angin kencang maupun angin puting beliung. Kondisi udara yang labil.

Berdasarkan analisis cuaca skala global, suhu permukaan laut (SST) di wilayah perairan wilayah Maluku relatif cukup hangat. Kondisi tersebut meningkatkan potensi terjadinya penguapan yang mensuplai uap air untuk terbentuknya awan-awan hujan. Kondisi MJO tidak berpengaruh pada kejadian hujan lebat pada waktu tersebut. Berdasarkan analisis skala regional, adanya pusat tekanan rendah menyebabkan belokan angin atau shearline yang memungkinkan meningkatkan pertumbuhn awan-awan hujan yang signifikan. Kelembaban udara (RH) pada lapisan 850 hpa bernilai 90-100%. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat kejadian hujan lebat kondisi atmosfer sangat lembab. Dari citra satelit Himawari menunjukkan awan-awan cumulonimbus (Cb) bergerak masuk ke wilayah Amahai dari arah Timur Laut dengan suhu puncak awan mencapai -62 sampai -69 derajat Celcius menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Berdasarkan analisis skala lokal, nilai Showalter Index mengindikasikan keadaan atmosfer labil (Instability of the atmosphere).

Secara analisa global, kejadian tergelincirnya Pesawat Sriwijaya SJ 570 yang diakibatkan oleh hujan lebat, yang terjadi di Bandara Rendani Manokwari, dipengaruhi oleh OLR & kondisi SST yang cukup hangat. Adanya pola shearline belokan angin & pola Konvergensidi tepat di atas wilayah Manokwari, membawa massa udara dari dari perairan samudera Pasifik. Kondisi ini cukup dapat berperan untuk pembentukan awan-awan konvektif penghasil hujan lebat. Kelembaban relatif (RH) pada lapisan 850, 700, 500 & 200 mb bernilai 70-90%. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi udara cukup basah hingga pada lapisan 200 mb saat kejadian hujan lebat. Kondisi udara basah tersebut sebagai penyuplai pertumbuhan awan-awan konvektif. Dari klasifikasi jenis awan diketahui awan yang terbentuk adalah awan Cumulonimbus (Cb) yang dapat diketahui berdasarkan suhu puncak awan pada counter line satelit Himawari 8 EH yaitu (-69) s/d (-75) derajat Celcius, yang sangat berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, Kondisi udara yang labil.

Secara analisis global, hujan lebat yang terjadi di wilayah kota Nabire dan sekitarnya dipengaruhi MJO, Indeks ENSO serta kondisi SST yang cukup hangat. Adanya pola konvergensi sekitar wilayah Nabire yang menyebabkan terjadinya pembentukan awan-awan konvektif penghasil hujan. Kelembaban relatif (RH) pada lapisan 850 mb bernilai 70-90%. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat kejadian hujan lebat kondisi udara basah, sangat berpotensi untuk perbentukan awan-awan konvektif diatas wilayah Nabire Dari klasifikasi jenis awan diketahui awan yang terbentuk adalah awan Cumulonimbus (Cb) yang dapat diketahui berdasarkan suhu puncak awan pada counter line satelit Himawari 8 EH yaitu (-69) s/d (-75) 0 derajat Celcius yang berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Kondisi atmosfer yang labil.

  • 21 Jun 2017, 01:21:42 WIB
  • 5.2 SR
  • 63 Km
  • 4.23 LS - 102.01 BT
  • 22 Jun 2017, 17:12:26 WIB
  • 4.5 SR
  • 15 Km
  • 2.1 LS 140.36 BT
  • Pusat gempa berada di Laut 55 BaratLaut Kab. Jayapura
  • Dirasakan (Skala MMI) : III Kab. Jayapura,
  • Selengkapnya →

Siaran Pers & Info Aktual