Analisis Kejadian Corona Mass Ejection (CME) dan Solar Wind di Stasiun Geofisika Kampung Baru Kupang (KPG)

  • 10 Jul 2017
  • RAHMAT SETYO YULIATMOKO, S.Si (PMG Pelaksana Lanjutan Sta. Geof. Kelas I Kampung Baru - Kupang BMKG)
  • BURCHARDUS VILARIUS P.MAN, A.Md (PMG Pelaksana Lanjutan Sta. Geof. Kelas I Kampung Baru - Kupang BMKG)
  • NETRIN MARIANTI NDEO, SST (Staff Sta. Geof. Kelas I Kampung Baru - Kupang BMKG)
  • TRI UMARYADI WIBOWO, SE, M.Si (PMG Penyelia Sta. Geof. Kelas I Kampung Baru - Kupang BMKG)

Sumber utama dari gangguan pada bumi khususnya medan geomagnet bumi yaitu Matahari. Matahari memancarkan elektromagnetik yang sangat kuat ke bumi yang dapat menghasilkan fenomena-fenomena seperti aurora, coronal holes, cme, badai matahari dan lain- lain. Dampak badai geomagnetik memang tidak secara langsung berdampak ke manusia, tetapi berdampak pada teknologi yang digunakan oleh manusia. Dampak ini diantaranya yaitu terganggunya sinyal radio HF maupun terganggunya sinyal yang dipancarkan oleh satelit sehingga dapat berpengaruh terhadap komunikasi. Hal ini dirasakan pada pengguna handphone, BTS, Komunikasi Pesawat dan lain-lain. Dampak lainnya yang begitu fenomenal yaitu terbakarnya trafo pembangkit listrik yang pernah terjadi di daerah Quebec pada tahun 1989.

Artikel Lainnya

Waspada Bahaya dan Risiko Gempabumi Pada Konstruksi Waduk

Laporan dari berbagai media massa elektronik menginformasikan bahwa telah terjadi banjir di daerah tersebut. Ratusan rumah di daerah tersebut terendam banjir, akibat meluapnya aliran Sungai Belutu dan Bedagai (tribunnews). Memasuki hari kesepuluh, banjir yang disebabkan oleh tingginya curah hujan di Serdang Bedagai, Sumatera Utara kini semakin meluas. Selain menyebar di tujuh kecamatan banjir (Sei Rampah, Dolok Masihol, Tebing Syahbandar, Bandar Khalipah, Tebing Tinggi, Sei Bamban, Sei Pispis) juga merusak sebuah jembatan dan menyebabkan lima tanggul jebol. (metrotvnews)

Berdasarkan laporan dari Kepala Desa Kecamatan Biru-biru, Kabupaten Deli Serdang, telah terjadi bencana tanah longsor yang diduga akibat tingginya intensitas curah hujan yang berlangsung selama sekitar 6 jam. Analisis dilakukan pada beberapa pos hujan di Kab. Deli Serdang yang letaknya berada di sekitar lokasi kejadian longsor, yaitu Pos Hujan Biru-biru, Sibolangit, dan Pancur Batu.

Sebanyak 3 (tiga) dusun di kecamatan Jelimpo, Kab.Landak terendam banjir yaitu dusun Pagong, Tanjung Petai, Kersik Belantian. Di dusun Kersik Belantian menyebakan 65 unit rumah penduduk terendam banjir,satu jembatan kayu rusak berat, 130 Ha sawah terendam, ratusan ternak hilang. Di Dusun Pagong banjir menyebabkan 50 unit rumah penduduk terendam banjir dengan korban banjir 300 jiwa serat 80 Ha sawah terendam. Desa ensalang dan desa parongkan, Kab. Sekadau terkena banjir namun tidak menimbulkan korban jiwa.

Telah terjadi angin kencang dengan kecepatan angin maksimum mencapai 22 knot sekitar pukul 20.30 - 21.30 WIT di wilayah Kota Nabire dan sekitarnya. Angin kencang yang terjadi tersebut menyebabkan beberapa pepohonan yang berjatuhan di sekitar ruas jalan di Kota Nabire

INFORMASI KEJADIAN LOKASI Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya TANGGAL 10 September 2017 DAMPAK Di Rasau Jaya, Kab. Kubu Raya, pohon besar tumbang tepat di tengah jalan Poros Kuala Dua, serta satu tiang beton patah. Listrik padam. Sejumlah bangunan rusak ringan - berat

Ditinjau dari sudut pandang potensi bencana, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki potensi bencana yang sangat tinggi, tidak terkecuali gempabumi dan tsunami. Secara tatanan tektonik, Indonesia terletak pada batas pertemuan tiga lempeng tektonik yang sangat aktif. Tiga lempeng tersebut adalah lempeng IndoAustralia, lempeng Eurasia dan lempeng Pasifik. Ketiganya berperan aktif dalam membentuk tatanan tektonik yang kompleks pada wilayah Indonesia. Konsekuensinya, terbentuk pola interaksi antar lempeng tektonik yang saling bertumbukan (konvergen), saling menjauh (divergen) dan saling bersinggungan (Transform). Palung Sunda (Sunda Trench), bukit barisan, rangkaian gunung api serta keberadaan sesar aktif menjadi bukti bahwa wilayah ini memiliki stuktur tektonik yang sangat kompleks. Informasi ini yang menjadi faktor utama wilayah Indonesia dikatakan rawan terhadap gempabumi dan tsunami. Berdasarkan hal tersebut, Indonesia menjadi magnet tersendiri bagi para ilmuwan kebencanaan untuk melakukan penelitian. Sumatra menjadi salah satu dari beberapa pulau di Indonesia yang mendapat perhatian khusus dari para peneliti dalam melakukan penelitian kebencanaan khusunya terkait potensi gempabumi dan tsunami.

Pada tanggal 3 September 2017 yang lalu, sebanyak 166 sensor seismik BMKG mencatat aktivitas seismik tidak lazim di Korea Utara yang kemudian diidentifikasi sebagai sebuah ledakan bom hidrogen. Ledakan tersebut mengakibatkan gempa bumi dengan magnitudo 6.2 Mw(mB). BMKG mencatat aktivitas seismik tersebut terjadi pada pukul 10:30:04 WIB (03:30:04 UTC) dengan lokasi episenter pada koordinat 128.94?BT - 41.32?LU dengan kedalaman hanya 1 km. Artinya ledakan bom dilakukan di bawah permukan tanah. Uji coba ledakan bom atom yang pernah dilakukan di Johnston Island pada 19 Juli 1962 dilaporkan menyebabkan gangguan magnet bumi yang terekam oleh banyak stasiun magnet bumi di dunia, bahkan oleh stasiun magnet bumi pada jarak lebih dari 10.000 km[3]. Namun uji coba ledakan pada saat itu dilakukan di atas permukaan tanah, tepatnya pada ketinggian 400 km. Selain itu kekuatan bom tahun 1962 juga jauh lebih besar yaitu setara dengan 1.4 megaton TNT[2]. Sedangkan menurut informasi dari kantor berita BBC, kekuatan ledakan di Korea Utara berkekuatan sekitar 100 kiloton TNT atau sekitar 5 kali lebih kuat dibandingkan bom Fat Man yang dijatuhkan Amerika Serikat di Nagasaki, Jepang pada tahun 1945[4].

Indonesia melalui Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memiliki enam stasiun pengamat medan magnet bumi. Stasiun ini tersebar dari mulai barat Indonesia yaitu Stasiun Geofisika Kelas 1 Tuntungan, Medan dan di timur Indonesia yaitu Stasiun Geofisika Kelas 1 Angkasapura, Jayapura. Tugas utama dalam pengamatan medan magnet bumi yaitu untuk mendapatkan nilai medan magnet bumi melalui pengamatan absolut dan variasi. Hasil dari pengamatan tersebut adalah didapatkanya nilai komponen medan magnet bumi seperti inklinasi, deklinasi dan juga berupa nilai dasar (baseline) dari setiap komponen medan magnet bumi yang baseline ini akan terus menerus dipantau sebagai monitoring dalam proses dinamika perubahan nilai medan magnet bumi.

Gempabumi Yogyakarta 27 Mei 2006 silam, menyadarkan kita akan pentingnya mitigasi bencana gempabumi. Gempabumi yang terjadi pagi hari tersebut menyebabkan lebih dari enam ribu korban meninggal dunia, puluhan ribu luka-luka serta menghancurkan ratusan ribu rumah dan infrastruktur lainnya. Total kerusakan dan kerugian ditaksir tidak kurang dari 29,1 triliun rupiah. Bercermin dari peristiwa tersebut, upaya mitigasi gempabumi utamanya di zona-zona gempabumi aktif sangat diperlukan. Informasi tentang akan terjadinya gempabumi menjadi sangat penting, paling tidak untuk menangkal informasi yang tidak dapat dipertanggung jawabkan tentang akan terjadinya gempabumi, mengingat wilayah Yogyakarta dilalui sesar Opak yang menjadi salah satu zona sumber gempabumi. Salah satu upaya mitigasi dan sekaligus menangkal isu atau berita yang meresahkan masyarakat tersebut adalah melalui pengamatan dan penelitian parameter fisis yang kemungkinan dapat memberikan peringatan yang cukup efektif akan kemungkinan datangnya bencana gempabumi (prekursor gempabumi).

  • 26 Sep 2017, 12:46:29 WIB
  • 5.0 SR
  • 10 Km
  • 5.59 LS - 101.43 BT
  • 25 Sep 2017, 17:22:01 WIB
  • 4.9 SR
  • 71 Km
  • 3.48 LS 140.25 BT
  • Pusat gempa berada di darat 75 km barat daya Keerom
  • Dirasakan (Skala MMI) : II Jayapura,
  • Selengkapnya →

Siaran Pers & Info Aktual