The 40th Meeting Of The ASEAN Sub Commitee On Meteorology And Geophysics (SCMG-40)

  • Rozar Putratama
  • 03 Mei 2018
The 40th Meeting Of The ASEAN Sub Commitee On Meteorology And Geophysics (SCMG-40)

Singapura- ASEAN Sub Committee on Meteorology And Geophysics (ASEAN-SCMG) merupakan Sub-Komite yang berada di bawah naungan ASEAN dan fokus pada bidang pelayanan jasa meteorologi dan geofisika menyelenggarakan pertemuan ke 40 yang diselenggarakan pada tangal 2-4 Mei 2018 di Singapura.

Pertemuan SCMG ini merupakan pertemuan rutin yang dilaksanakan setiap tahunnya yang dikoordinasikan oleh ASEAN-Committee of Science and Technology (COST) yang merupakan tindak lanjut pertemuan the 39th ASEAN Sub Committee on Meteorology And Geophysics yang telah dilaksanakan sebelumnya di Manila, Filipina, pada tanggal 3-5 Mei 2017.

Pertemuan yang berlangsung selama 3 hari ini merupakan pertemuan koordinasi di bidang peningkatan penyediaan jasa meteorologi dan geofisika di ASEAN melalui promosi kajian dan koordinasi pertukaran pengetahuan, keterampilan, materi dan publikasi untuk bidang-bidang seperti: sistem peringatan dini, mitigasi bencana, regional perubahan iklim, serta pemantauan resiko kebakaran hutan di kawasan Asia Tenggara.

Pertemuan ini dibuka oleh Dr. Amy Khor, Senior Minister of State Ministry of the Environment and Water Resources Singapore dan dipimpin oleh Deputy Administrator for Research and Development of PAGASA, Filipina, Dr. Flaviana Hilario dan dihadiri oleh perwakilan dari Sekretariat ASEAN, serta delegasi dari 10 Negara anggota ASEAN, yaitu: Brunei Darussalam, Indonesia, Laos, Malaysia, Kamboja, Myanmar, Filipina, Thailand, Singapura, dan Vietnam, serta perwakilan dari WMO (World Meteorological Organization), KMA (Korea Meteorological Administration), CMA (China Meteorological Administration), dan JMA (Japan Meteorological Agency).

Yang menjadi agenda penting bagi Indonesia pada pertemuan ini antara lain:

  1. Pengembangan Website AEIC;
  2. Membangun project SACA&D di wilayah ASEAN;
  3. Rencana Pelaksanaan International Workshop on Numerical Weather Prediction (NWP) Performance on Southeast Asia Region;
  4. Kerja sama pelaksanaan program e learning di bidang meteorologi dan geofisika.

Adapun keanggotaan Indonesia dalam ASEAN SCMG diwakili oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika dimana pada pertemuan ini Delegasi Indonesia dipimpin oleh Kepala Pusat Seismologi Teknik, Geopotensial dan Tanda Waktu, Dr. Jaya Murjaya dengan didampingi oleh Kepala Pusat Meteorologi Publik, Dra. Nurhayati, M, Sc serta perwakilan dari Pusdiklat dan Sub Bagian Kerjasama Luar Negeri BMKG.

Pertemuan ini diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih baik bagi Negara anggota ASEAN khususnya dalam peningkatan kemampuan layanan dalam bidang MKG serta meningkatkan layanan perkiraan dan sistem peringatan dini dengan harapan dapat membantu meningkatkan kontribusi Indonesia kepada Negara anggota ASEAN

Gempabumi Terkini

  • 20 Mei 2024, 20:42:24 WIB
  • 4.6
  • 22 km
  • 7.69 LS - 106.42 BT
  • Pusat gempa berada di laut 79 km BaratDaya Kabupaten Sukabumi
  • Dirasakan (Skala MMI): III Sindangbarang, III Nagrak, III Cibinong, III Cipamingkis, III Surade, III Jampang, II - III Cigaru, II-III Simpenan, II - III Kabupaten Sukabumi
  • Selengkapnya →
  • Pusat gempa berada di laut 79 km BaratDaya Kabupaten Sukabumi
  • Dirasakan (Skala MMI): III Sindangbarang, III Nagrak, III Cibinong, III Cipamingkis, III Surade, III Jampang, II - III Cigaru, II-III Simpenan, II - III Kabupaten Sukabumi
  • Selengkapnya →

Siaran Pers

Punya Banyak Manfaat, BMKG Berbagi Praktik Baik Teknologi Modifikasi Cuaca dengan TunisiaBali (20 Mei 2024) - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut bahwa Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) memberikan dampak positif di tengah laju perubahan iklim. Hal tersebut disampaikan Dwikorita pada saat pertemuan Bilateral dengan Menteri Agrikultur, Sumber Daya Hidraulik, dan Perikanan Tunisia Abdelmonaam Belaati. "Seiring intensitas cuaca ekstrem yang tinggi memang negara kita (Indonesia-red) banyak menderita akibat bencana yang diakibatkannya dan itulah mengapa TMC menjadi salah satu pendekatan mitigasi yang bisa dilakukan pada saat kita terancam," kata Dwikorita di Posko TMC Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, Minggu (19/5). Dwikorita menjelaskan bahwa TMC dapat dilakukan untuk memitigasi bencana seperti cuaca ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim. Misalnya, Indonesia pernah mengalami cuaca esktrem yang disebabkan oleh fenomena El Nino pada 2015, 2016, dan 2019 di mana banyak wilayah yang mengalami kekeringan dan kebakaran hutan. Akibat kejadian tersebut, kata dia, banyak kerugian yang disebabkan dan membuat masyarakat menderita. Oleh karenanya, berdasarkan hasil analisis BMKG pada saat El Ni�o tahun 2023, BMKG telah belajar banyak dan memanfaatkan TMC sebagai bentuk mitigasi terhadap dampak bencana yang dihasilkan. Diterangkan Dwikorita, pada saat El Nino, sering kali terjadi penurunan air tanah sehingga menciptakan lahan yang sangat kering dan sangat sensitif terhadap kebakaran hutan. Secara alami, jika dahan pohon saling bergesekan, maka kebakaran pun bisa terjadi. "Nah, TMC bisa digunakan untuk mengantisipasi kebakaran tersebut dengan menyemai awan-awan di wilayah yang rentan mengalami kebakaran hutan dan lahan. Data yang dimiliki BMKG, Terdapat sekitar 90 atau 80% pengurangan kebakaran hutan," ujarnya. Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menyampaikan bahwa BMKG telah melakukan cloud sheeding selama lima hari untuk menangani bencana hidrometeorologi banjir bandang dan banjir lahar hujan di Sumatra Barat. Sebanyak 15 ton garam disemai di wilayah Sumatra Barat untuk menahan intensitas hujan yang cukup tinggi dan berpotensi membawa material vulkanik sisa letusan Gunung Marapi. TMC dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi intensitas hujan di lereng Gunung Marapi dan memudahkan pencarian korban hilang. Seto menegaskan bahwa TMC sangat penting untuk menyelamatkan hidup manusia, menjamin kemakmuran, dan kesejahteraan manusia karena membantu produksi pertanian di daerah kering. Oleh karenanya usaha ini harus terus dilakukan secara kolektif. Sementara itu, Menteri Agrikultur, Sumber Daya Hidraulik, dan Perikanan Tunisia Abdelmonaam Belaati mengampresiasi kemampuan BMKG dalam melakukan TMC. Menurutnya, TMC merupakan pekerjaan yang sangat baik demi menjaga keberlangsungan hidup manusia. Abdelmonaam bercerita, Tunisia mencatat kekeringan selama 5-7 tahun yang menyebabkan pasokan air berkurang. Dan oleh karenanya, dengan kunjungan ke Indonesia, Tunisia ingin mencari solusi bagaimana TMC bisa dilakukan dengan efektif. Saat ini untuk menanggulangi persoalan tersebut Tunisia sedang melakukan desalinasi air laut atau proses menghilangkan kadar garam dari air sehingga dapat dikonsumsi oleh makhluk hidup. Juga sedang mencoba memikirkan bagaimana bisa menggunakan air bekas dan air olahan. "Dan solusi lainnya adalah bagaimana bisa melakukan modifikasi cuaca. Bagaimana kita bisa mendatangkan hujan ke suatu negara. Itu sangat penting dan itulah sebabnya kami ada di sini hari ini dan berharap dapat terus bekerja sama," pungkasnya. (*) Biro Hukum dan Organisasi Bagian Hubungan Masyarakat Instagram : @infoBMKG Twitter : @infoBMKG @InfoHumasBMKG Facebook : InfoBMKG Youtube : infoBMKG Tiktok : infoBMKG

  • 20 Mei 2024